Senin, 01 Oktober 2018

Apa Bedanya Surat PPJB dan AJB saat Transaksi Jual Beli Rumah Bekas


Apa sih perbedaan antara surat jual beli rumah dengan AJB itu ketika sedang melakukan transaksi jual beli rumah bekas itu? Saat ini akan kami jelaskan sedikit pembahasan tentang perbedaan di antara keduanya ketika sedang membeli rumah bekas. Ketika sedang melakukan sebuah transaksi jual beli rumah yang bekas, mungkin Anda tidak asing dengan istilah dari PPJB dan juga istilah AJB.
Baik itu untuk PPJB dan juga AJB, keduanya adalah perjanjian di antara pembeli dan juga penjual. Meskipun keduanya sama-sama merupakan perjanjian, namun keduanya berbeda. Entah itu dari segi formatnya, bentuknya, dan juga fungsinya. Biasanya orang yang masih awam dalam melakukan transaksi jual beli utnuk rumah bekas, mereka tidak paham dengan istilah keduanya. Maka dari itulah, kali ini akan kami berikan penjelasan tentang perbedaannya, di bawah ini:

Tentang PPJB
PPJB merupakan sebuah ikatan awal yang dibuat di antara penjual dan juga pembeli di bawah tangan. Itu artinya, perjanjian PPJB dibuat penjual dan pembeli tanpa menggunakan pihak notaris. Jadi, bahasa hukumnya adalah akta non otentik. Dikarenakan sifatnya yang non otentik, sehingga PPJB ini tidak bisa mengikat tanah dan tidak bisa membuat kepemilikan tanah menjadi berakhir. PPJB itu sendiri sifatnya tidak wajib. Biasanya orang yang membuat PPJB sebagai sebuah prasyarat untuk membuat sebuah AJB.
PPJB itu sendiri dapat mengatur perjanjian awal di antara penjual dan juga pembeli. Akan tetapi, transaksinya belum bisa dilakukan dikarenakna masih terdapat kendala. Misalnya saja, tanah yang dijual masih dijadikan sebagai agunan kredit, persyaratannya kurang mendukung, dll.
Apa Bedanya Surat PPJB dan AJB saat Transaksi Jual Beli Rumah Bekas


Tentang AJB
AJB merupakan sebuah perjanjian atau berupa akta otentik yang dibuat pihak notaris atau pihak PPAT dan persyaratan dalam mealkukan transaksi untuk jua beli rumah. Jadi, akta jual beli itu merupakan sebuah bukti otentik yang bisa menyebabkan beralihnya pihak kepemilikan dari pihak penjual kepada pihak pembelih. Untuk istilah umumnya yaitu balik nama.
Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membuat PPJB supaya baik pihak penjual dan juga pihak pembeli bisa saling untung dan sama-sama tidak dirugikan.
PPJB tersebut harus menjelaskan juga tentang objek tanah beserta bangunan yang elas. Baik itu untuk ukuran luas bangunan, ukuran luas tanah, arsitektur bangunan, peta bidang tanah, sertifikat dan juga pemegang hak kepemilikan, NJOP, PBB, perizinan yang terkait, harga bangunan, harga tanah untuk setiap meternya, periode pembayaran, dan cara pembayaran.
Ketentuan dan Syarat yang Telah Disepakati Penjual & Pembeli
Bukti dan juga penegasan terkait terhadap kewajiban pembayaran pajak, biaya untuk pengukuran tanah, biaya untuk pengecekan sertifikat, biaya untuk Notaris/ PPAT, dan juga biaya yang lainnya yang berkaitan dengan transaksi untuk penjualan rumah bekas.
Penjelasan tentang pernyataan dan juga jaminan dari penjual, tentang status rumah atau tanah. Sebaiknya, pastikan supaya rumah dan tanah tersebut tidak sedang diagunkan, tidak sedang dalam sengketa hukum, kepemilikannya sah. Pihak pembeli berhak dibebaskan dari semua tuntutan hukum, bila penjual sedang mengalami kesalahan dalam memberi pernyataan.

Cara Membuat AJB
Di bawah ini adalah beberapa persyaratan dokumen yang wajib disiapkan penjual saat membuat AJB, antara lain:
  • ·         FC KTP suami istri.
  • ·         FC KK.
  • ·         FC akta nikah.
  • ·         Sertifikat tanah asli.
  • ·         Surat tanda terima setoran dari PBB asli.
  • ·         Surat persetujuan pasangan.
  • ·         Surat keterangan kematian, bila pasangan meninggal dunia.
  • ·         Surat persetujuan ahli waris saha, bila pasangan telah meninggal dunia.

Di bawah ini adalah beberapa persyaratan dokumen yang harus disiapkan oleh pembeli, antara lain:
  • ·         FC KTP suami istri.
  • ·         FC KK.
  • ·         FC akta nikah.
  • ·         FC NPWP.

Di samping itu ada beberapa tahapan yang wajib dilakukan untuk membuat AJB, yaitu berikut ini:

#1 Pengecekan Sertifikat dan juga PBB
Pihak PPAT akan melakukan pengecekan sertifikat tanah dan juga PBB. Pihak penjual akan diminta sertifikat asli dan STTS PBB.  Sehingga, bisa digunakan untuk memastikan terhadap kesesuaian data teknis dan data yuridis. Hal ini cukup mengutnungkan untuk pembeli, karena pihak PPAT memastikan supaya tanah sedang tidak dijaminkan, tidak sedang dalam sengketa hukum, dan tidak sedang menunggak PBB.

#2 Persetujuan Ahli Waris dan Pasangan yang Sah
Sebelum penandatanganan AJB, dibutuhkan persetujuan dari sang pemilik harta. Umumnya PPAT meminta persetujuan dari sang suami istri sebagai pihak penjual yang telah menikah. Bila pihak penjual memakai pernikahan sebagai harta bersama, maka rumah itu merupakan harga dari pasangan suami istri. Sehingga, dibutuhkan persetujuan keduanya untuk menjual rumah tersebut.

#3 Biaya AJB
Ada sejumlah komponen biaya yang wajib dibayarkan ketika membuat AJB. Misalnya saja, seperti PPh, BPHTB, dan juga PPAT. PPh yang wajib dibayar oleh pihak penjual adalah 5%. PPTHB yang wajib dibayar pihak pembeli adalah 5% sesudah dikurangi NOPTKP. Biaya untuk notaris atau PPAT ditanggung oleh penjual dan juga pembeli. Untuk lebih lengkapnya bisa langsung saja akses ke rumah.com.

0 komentar:

Posting Komentar